
Sarwendah akhirnya angkat bicara dan memberikan klarifikasi tegas setelah namanya terus-menerus diseret dalam isu pesugihan di Gunung Kawi yang viral belakangan ini. Melalui kuasa hukumnya, Abraham Simon, artis senior Indonesia ini membantah keras semua tuduhan yang beredar dan menegaskan bahwa kunjungannya ke lokasi tersebut hanya untuk keperluan syuting konten horor semata.
Klarifikasi ini digelar secara resmi pada Selasa, 19 Mei 2026, setelah isu tersebut viral dan menimbulkan spekulasi liar di masyarakat yang mulai meresahkan keluarga. Pihak Sarwendah merasa perlu meluruskan informasi yang salah agar tidak semakin merugikan nama baik dan karier yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun di industri hiburan Tanah Air.
Kronologi Isu yang Viral di Media Sosial
Sebelum Sarwendah akhirnya angkat bicara, isu bermula dari beredarnya potongan video yang diduga menampilkan artis tersebut sedang melakukan ritual mistis di kawasan Gunung Kawi, Jawa Timur. Video itu dengan cepat menyebar di berbagai platform seperti TikTok, X (Twitter), dan Facebook, memancing perdebatan sengit di kalangan netizen.
Banyak pihak yang langsung memberikan stigma negatif tanpa menunggu penjelasan resmi. Tuduhan tersebut menyebutkan bahwa Sarwendah melakukan pesugihan untuk mendapatkan rezeki instan atau mempertahankan popularitas. Isu ini menjadi semakin liar ketika beberapa akun buzzer menyebarkan narasi yang tidak jelas sumbernya, menciptakan stigma buruk yang sulit dihapus begitu saja.
Pernyataan Tegas dari Kuasa Hukum Abraham Simon
Abraham Simon, selaku kuasa hukum Sarwendah, menjelaskan secara rinci bahwa kliennya pergi ke Gunung Kawi semata-mata untuk kepentingan profesional sebagai content creator bidang horor. “Bunda Sarwendah ke sana hanya untuk syuting konten horor, bukan untuk melakukan ritual pesugihan seperti yang dituduhkan. Ini adalah kesalahpahaman besar,” tegas Abraham dalam konferensi pers tersebut.
Pengacara ini juga menekankan bahwa kesuksesan yang diraih Sarwendah selama ini adalah hasil kerja keras dan dedikasi, bukan dari praktik-praktik mistis yang merugikan orang lain. “Kalau memang pakai pesugihan, ngapain Bunda Sarwendah masih harus banting tulang bekerja setiap hari? Ini jelas fitnah yang merugikan nama baik klien kami,” ujar Abraham dengan nada tegas.
Sarwendah Akhirnya Angkat Bicara Lewat Media Sosial
Selain memberi klarifikasi melalui kuasa hukumnya, momen di mana Sarwendah akhirnya angkat bicara juga terlihat melalui respons tidak langsungnya di media sosial. Ia memberikan sindiran menohok kepada pihak-pihak yang dengan sengaja menyebarkan isu tanpa verifikasi yang jelas.
Ia menyoroti fenomena clickbait yang semakin marak di media sosial, di mana nama artis sering dijadikan umpan untuk mendapatkan views dan engagement tanpa memedulikan dampak psikologis yang ditimbulkan. “Menjadi publik figur memang harus siap dikritik, tapi bukan berarti kita harus menerima fitnah dan tuduhan tanpa dasar yang merusak mental,” tulisnya secara implisit dalam unggahan terbarunya.
Dampak Hukum: Ancaman UU ITE Menanti Penyebar Hoaks

Pihak Sarwendah tidak hanya berhenti pada klarifikasi verbal, tetapi juga menyinggung aspek hukum. Sarwendah akhirnya angkat bicara dengan menyiratkan akan mengambil langkah hukum bagi penyebar berita bohong. Dalam undang-undang Indonesia, penyebaran informasi palsu yang merugikan nama baik seseorang bisa dijerat dengan pasal pencemaran nama baik dan UU ITE.
Abraham Simon menegaskan bahwa pihaknya sedang mendata akun-akun yang secara aktif menyebarkan fitnah tersebut. “Kami tidak akan main-main. Siapapun yang menyebarkan hoaks ini dengan niat jahat, siap-siap saja berhadapan dengan hukum,” ancamnya. Ini menjadi peringatan keras bagi para buzzer atau netizen yang kerap menyebarkan informasi tanpa validasi.
Perlindungan Mental Anak Jadi Prioritas Utama
Salah satu pertimbangan utama di balik keputusan Sarwendah akhirnya angkat bicara adalah perlindungan terhadap kesehatan mental anak-anaknya. Sebagai ibu, Sarwendah sangat melindungi privasi sang buah hati dari dampak negatif berita hoaks tersebut. Setelah berkonsultasi dengan tim psikolog, ia menyadari bahwa isu yang terus bergulir tanpa klarifikasi dapat berdampak negatif pada perkembangan emosional keluarganya.
“Kami tidak ingin anak-anak tumbuh dengan beban psikologis akibat isu yang tidak benar. Mereka berhak mendapatkan lingkungan yang sehat dan suportif untuk berkembang,” jelas pihak Sarwendah dalam pernyataannya. Isu mistis yang dikaitkan dengan orang tua sering kali menjadi bahan bully bagi anak-anak di lingkungan sekolah, sehingga penanganan cepat sangat diperlukan.
Dukungan dari Marcel Radhival (Pesulap Merah)
Isu ini juga mendapat perhatian dari Marcel Radhival atau yang dikenal sebagai Pesulap Merah. Ia memberikan klarifikasi terkait keterkaitan namanya dengan isu pesugihan Gunung Kawi yang menyeret Sarwendah. Marcel menduga ada kesalahpahaman dan menekankan pentingnya verifikasi informasi sebelum menyebarkan kabar ke publik.
Pesulap yang dikenal kritis terhadap praktik mistis ini mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam mengonsumsi informasi. Ia memberikan validasi bahwa apa yang dilakukan Sarwendah adalah bagian dari dunia hiburan, bukan ritual yang melanggar norma.
Kesimpulan: Menunggu Perkembangan Selanjutnya
Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi publik untuk lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar. Verifikasi fakta dan etika berkomunikasi di media sosial harus tetap dijunjung tinggi demi menciptakan ekosistem informasi yang sehat.
Publik juga dihimbau untuk tidak mudah terprovokasi oleh judul-judul clickbait yang sering kali mengorbankan privasi dan nama baik seseorang demi mendapatkan traffic dan engagement. Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya apakah Sarwendah akhirnya angkat bicara akan berlanjut ke jalur pengadilan atau cukup selesai dengan klarifikasi ini.
